Senin, 15 Agustus 2011

Good Bye Harry Potter..hiks


Film Harry Potter and The Deathly Hallows part II

Akhirnya setelah menunggu lama, gue bisa juga menonton Harry Potter and The Deathly Hallows part II , edisi terakhir yakni yang ke 8. kayaknya legaaa banget bercampur sedih (ih lebay) karena setelah ini gw gak bakal liat liat Harpot, Hermione dan Ron Weasley lagi.

Ketika film Harpot susah tayang di Jakarta, nggak mungkin juga gue ke Singapur Cuma untuk nonton. Kayaknya hebat banget gitu,  sok kaya. Hingga akhirnya masuk lah itu film ke Jakarta, tapi lagi-lagi harus menahan diri karena membludaknya penonton hingga harus pesen jauh-jauh hari.

Ketika “rindu” sudah tak tertahan dengan tiga jagoan ini gue telpon ke 21 dkt rumah dan mereka mengatakan kalau bioskop sudah mulai sepi karena ada 4 bioskop langsung memutar film Harpot.

Film Harpot edisi terakhir ini diawali dengan cerita yang terus menegang, musik yang mendukung hingga gue ikut deg-degan terutama ketika Hermione nyamar menjadi Bellatrix Lestrange, si penyihir cewek paling tengil dan ngejilat si Voldemort terus. Film Harpot kali ini menurut gw bagus di awal, ketika Harpot yang tampil sebagai pahlawan di kastil Hogwarts. Ketika kepala sekolah baru Severus Sanpe akhirnya ngacir keluar karena kekompakan yang ditujukan oleh murid-murid di Hogwarts.

Harpot terakhir ini, si Rowling menampilkan karakter pemain lain yang selama ini terkesan diam dan alim di Harpot sebelumnya. Seperti Karakter Professor Minerva MacGonagall yangselama ini lebih banyak diam dan terkesan tampil manis menunjukan keahliannya dalam sihir ketika berduel dengan Severus serta mengeluarkan pasukannya untuk minta perlindungan di Hogwarts.

Lalu ibunya Ron ,Molly Weasley (Julia Mary Walters) dalam film kedua ini juga tampil duel melawan Bellatrix Lestrange untuk melindungi anaknya. Juga sosok cupu selama film Harpot sebelumnya, (duh gw lupa namanya, yg giginya tonggos), dia tampil sebagai pahlawan. Dengan beraninya dia melawan Voldemort dan menghabisi ular kesayangnya si the who u know itu.

Film Harpot ini mengingatkan gw akan film trilogy The Lords of The Ring, ketika endingnya begitu menggegerkan detakan jantung gw karena tampilan efek computer yang dibuat kolosal begitu keren. Tapi untuk Harpot ini di 30 menit terakhir film mulai kedodoran. Terlebih lagi di adegan ketika harry bertemu dengan Dumbledore di Kingscross. Semua serba putih, mengingatkan guw dengan film Pirates Carabian yang kedua ketika Jake bermimpi di sebuah ruangan serba putih dan hanya dirinya dan kapal pribadinya yang muncul.

Toh semua sah-sah saja bagi pecinta Harpot ketika melihat endingnya yang begitu manis di mana sempet kecele” kalau Harry harus mati karena bagian dari dirinya terdapat kekuatan Voldemort. Toh itu untuk bikin pecinta Harpot gak rela kalau sampai jagoannya mati.
Yang bikin resah di endingnya ketika ditulis 19 tahun kemudian. Duh, mungkin untuk novel bagus tapi untuk film??? Kayak di sinetron, si Harpot serta kawan-kawannya didadani tua karena sudah memiliki anak. Kenapa harus ada seperti itu??apa mungkin ada kelanjutan Harpot di mana anaknya yang menjadi peran utama. Dan ternyata Voldemort juga punya anak dan melakukan balas dendam?? Hahahahahha….we”ll’see. Anyway jujur sih agak sedih gak bisa lagi nonton Harpot karena karakternya udah kepake banget sejak dia kecil.
.


Jumat, 20 Mei 2011

CATATAN KECILKETIKANMENGINJAKAN KAKI DI BUMI PARA NABI 4 (The end of the great story)

Rabu, 16 Maret 2011

Pagi hari kita siap-siap tur mengunjungi beberapa tempat bersejarah di Mekkah. Perjalanan membawa kita ke Jabal Rahmah yang berada di Padang Arafah. Jabal Rahmah berarti bukit Kasih Sayang. Di puncak bukit ada batu memanjang ke atas yang konon tempat pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa setelah 200 tahun dipisahkan Allah dari surga. Jalanan ke puncak berbatu menjadi saksi bisu manusia pertama itu menginjakan kakinya di Jabal Rahmah. Asal mula terjadinya Tanah Haram Mekkah dan Madinah di sebuah riwayat diceritakan ini bermula ketika Nabi Adam merasa dirinya masih berdosa setelah Allah membuangnya ke bumi.Saat itu Nabi Adam berdoa untuk  menjaga dirinya agar terhindar dari dosa seperti yang terjadi ketika dirinya berada di Surga dengan memakan buah Khuldi.
Saat itu Allah langsung memerintahkan para malaikat untuk membuat batas pagar. Dari sanalah terjadi kota suci Mekkah dan Madinah yang hingga kini masih dirasakan dan dialami  oleh umat Islam jika berbuat maksiat. Artinya, Allah mensucikan umatnya dan dihindarkan dari dosa ketika berada di dua tanah suci itu.

Karena waktu yang sangat singkat kita hanya melewati Jabal Nur, yang diatasnya terdapat Gua Hira. Gua ketika Nabi Muhammad mendapatkan ayat Al-Quran yang pertama yakni Iqra. Kita juga melewati Jabal Tsur, tempat bersembunyi Nabi Muhammad bersama Abu Bakar ketika dikejar oleh orang kafir. Akhir perjalanan diakhiri ke Mesjid Jaronah. Konon, mesjid ini didirikan oleh seorang janda stress di jaman Nabi Muhammad. Janda ini pekerjaanya menyulam, jika sulamannya sudah selesai akan dirobek dan kembali disulam. Mesjid ini bentuknya masih sama seperti awal pembuataanya. Di mesjid Jaronah inilah kita melakukan miqot untuk Umroh yang ketiga bersama rombongan.

Kamis (17 Maret 2011) pagi jam 3 usai solat tahajud, semalaman Mekkah diguyur gerimis disertai hembusan angin dingin. Saat itu gue merasa Hajar Aswad pasti kosong. Selama tiga hari di Mekkah, belum sekali pun gue mendekati Hajar Aswad melihat banyaknya manusia bergerombol di depan batu hitam dari surga itu. Ketika kaki sudah mendekat Hajar Aswad gue melongo. Masih banyak saja orang yang berusaha menciumnya. Gue dekati sisi lain Ka’bah, gue sentuh, gue usap tubuh Ka’bah dengan lembut. Terasa getaran yang berbeda.  Gue intip tubuhnya dibalik kain hitam yang menyelimuti. Ka’bah batu hitam besar yang tengahnya terdapat garis dengan warna emas.

Sekitar 3 meter disamping, Hajar Aswab berdiri. Gue melihat sepasang suami istri muda dari Malaysia berpegangan di besi pinggiran Ka’bah dan beringsut pelan menghampiri Hajar Aswad. Jadi kita dalam keadaan menyamping. “Ayo seperti ini, kita pelan-pelan ke Hajar Aswad,” kata mereka. Gue pun mengikuti intruksi mereka. Gerimis masih turun, angin semakin dingin. Orang masih berebutan untuk bisa mencium Hajar Aswad. Seorang ibu Arab yang pendek dan gemuk berteriak marah karena berada di tengah-tengah beberapa pria besar dan tertahan di sana tanpa bisa bergerak. Semakin mendekati Hajar Aswad, gue merasa ada yang salah. Di depan batu hitam itu orang saling menyikut, menarik, memaksa orang yang di depannya. Sepasang suami istri muda disamping gw juga terlihat semakin terjepit bahkan suaminya melindungi istrinya. Keadaan semakin payah. Gue merasa saat itu, untuk sesama muslim nggak harus saling menyakiti. Gue merasa cara itu salah, tarik-tarikan dengan paksa untuk mencium Hajar Aswad. Ketika gue memutuskan untuk keluar dari kerumunan itu, tiba-tiba seorang ibu Malaysia lain berteriak “Keluar!”

Ternyata dia juga nggak kuat untuk bisa menuju Hajar Aswad dan memutuskan keluar. Gue pun balik badan dan terkaget-kaget ternyata sudah banyak lelaki Arab yang ngantri untuk mencium Hajar Aswad juga di belakang gue. Akhirnya dengan susah payah gue bisa menyelamatkan diri. Toh, nggak ada hadist yang mengatakan mencium Hajar Aswad itu wajib. Orang pada mencium karena (kalo nggak salah ya) melihat Nabi Muhammad mencium dan yang lain mengikutinya.  Tapi gue yakinkan, ke Mekkah selanjutnya Insya Allah gue bisa mencium Hajar Aswad yang kata temen gue , yang berhasil menciumnya- terasa wangi.

Semakin mendekati waktu kepulangan ke Jakarta perasaan semakin gelisah, hati tiba-tiba terasa terus mellow, sedih dan beku. Sehari sebelum check out, gw menghabiskan waktu di Masjidil Haram dengan beribadah. Gw perhatikan tiap detil yang ada di Masjidil Haram, karpet, ukiran, warna tiang, sampai jirigen yang dideretkan dekat tiang yang berisi air zamzam.Sangat berat meninggalkan Mekkah. Sama beratnya ketika harus meninggalkan Madinah. Gw merasa sudah berbaur dengan kedua kota suci itu. Pikiran terfokus kepada Allah.

Kamis pukul 09.00 pagi gw thawaf Wada (terakhir) sendiri. Karena teman satu kelompok  sudah thawaf wada, akhirnya gue nyempil ikut kelompok jamaah Indonesia lain yang juga melakukan thawaf wada. Suasana sangat sangat mellow. Semua ibu dan bapak di kelompok itu menangis, meninggalkan Kiblat Umat Islam, mengucapkan selamat tinggal kepada Ka’bah, Masjidil Haram dan Mekkah. Gue kayak nggak rela ninggalin Ka’bah. Gue bener-bener nggak mau pulang. Beraaatttt baanngeeetttt. Gue nggak mau pergi dari sini.

sebelum sampai di bandara Jeddah, kita mampir dulu ke Laut Merah. Laut Merah ini terkenal ketika Nabi Musa membelah laut merah itu menjadi dua agar bisa berjalan bersama umatnya untuk menyelamatkan diri dari Fir'aun yang mengaku dirinya Tuhan. Meski kejadiannya di Laut Merah di Mesir tapi tetap aja merasa takjub, apalagi jasad Fir'aun ditemukan di laut tersebut dan hingga kini masih utuh untuk menjadi contoh dan bukti nyata bagi orang yang kafir. Di laut merah juga ada Mesjid Terapung yang berwarna putih.

Gue benar-benar bersyukur Allah memberikan gue rejeki untuk bisa ke Madinah dan Mekkah tanpa mengeluarkan uang sepersen pun. Subhanallah, Allah sayang bangetkan sama gue? Gue juga terima kasih sama teman-teman satu kelompok, meski kita sedikit cuma 15 orang tapi solid banget, saling menjaga, saling melindungi dan selalu bersama meski dari Jakarta nggak ada satu orang pun dari travel yang mewakili. Makasih buat mbak Pipin, ibu Dedeh dan Pak Entik, Mbak Piko dan Fauzan,Bu Lastri dan Pak Bambang, Rina, Uwak, Ayah dan Ibu Rina, Pak Totok, Pak dan Bu Mahfudz. Kita kompak banget, karena kita jamaah paling sedikit. Sedangkan travel lain membawa jamaah sekitar 60-70 orang. Gue yakin suatu saat bisa ke Madinah dan Mekkah lagi, Aminn….Bismillahi Allahu Akbar. (The End of The Story)


Pas azan zuhur kita sampai di hotel dan siap-siap ke Nabawi. Menghabiskan waktu di tanah suci dengan beribadah poll seakan memberikan energi baru. Mindset tentang kehidupan sedikit berubah. Apa yang kita pikirkan katanya bisa terwujud. Entah benar Entah tidak, tapi gw merasakannya. Saat itu kita sedang solat  di Nabawi. Gw dengan seorang teman membahas, sepanjang sholat di Nabawi nggak pernah melihat satu orang cina pun. Yang dilihat berwajah Arab, Eropa, Turki, India, Melayu, Afrika. Ketika azan sudah berkumandang dan mesjid semakin penuh, gw heran kenapa di sebelah gw nggak ada satupun yang mengisi?Dalam hitungan menit ketika duduk  menanti komat, mata gw bertumpu pada satu sepatu kain berwarna pink. Sepatu pink itu berdiri di samping gw dan akan mengisi tempat kosong itu. Ketika mendongak dan melihat wajahnya, Oh My God. She’s a Chinese!!Matanya sipit, pipinya tembem dan kemerahan. Teman gw bilang kayak orang Mongolia. Gw perhatiin terus orang Cina itu apakah dia wujud malaikat? Hahahahah, nggak mungkin juga soalnya dia datang sama nyokapnya.

Keajaiban lain datang ketika selintas lewat di pikiran gw seandainya punya tasbih mungkin zikir gw lebih khidmat. Entah bagaimana ketika I’tikaf di Mesjid, tiba-tiba di bawah tas terjulur sebuah tasbih berwarna biru. Kata teman gw, itu tasbih milik orang di sebelah gw. Gw yakin orang Arab disebelah gue baru datang ketika gue kembalikan dia menolak. Alhasil itu tasbih milik gw alhamdulillah, rejeki.

Pertolongan Allah datang lagi ketika di malam hari ternyata Raudhah di buka untuk perempuan. Usai sholat Isya gw baru tahu Raudhah tidak hanya dibuka di pagi hari juga malam hari dan malam itu lagi-lagi gue sendiri terpisah dari 3 teman sekamar. Ketika masuk ke Raudhah, gw diserbu oleh segerombolan ibu2 gemuk dan berjalan seperti robot, yakni ibu2 dari Turki. Gw kejepit, nggak ada satu pun teman yang bisa menarik gw keluar dari tempat berbahaya itu. Sholat pun sulit, jalan nggak bisa. Tubuh gw seakan remuk terjepit. Dan gw lihat orang2 melayu lain membuat pagar untuk temannya agar bisa solat bergantian. Lha gw? Siapa yang menjaga dan keluar dari gerombolan ibu2 penuh napsu  itu? Alhamdulillah segala pertanyaan di dalam hati dijawab dan dalam hitungan detik di hadapan gw ada ruang kosong dan gw bisa solat dan sujud sepuasnya.

Gw semakin yakin dan bersemangat diberi kemudahan oleh Allah di Tanah Suci itu. Gw semakin se mangat menyambut hari ke Mekkah dan siap menerima kemudahan lain meskipun kenyataanya kemudahan dan ujian yang gw terima di Mekkah membuat gue harus ikhlas dan sabar. Kecintaan Allah untuk gw di Mekkah dalam bentuk yang berbeda dari yang gw terima di Madinah.

Mekkah

Senin, 14 Maret 2011

Siap-siap check out dari Madinah menuju Mekkah. Perasaan sangat berat meninggalkan Madinah dan Nabawi. Separuh jiwa gue tertinggal di sana. Gw tinggalkan jalanan yang diapit gedung-gedung tinggi menjulang. Gw lepaskan hembusan angin dingin Madinah yang menerpa tubuh, wajah dan hati gue. Gw gak perduli kulit wajah, bibir dan badan gw mendadak kering dan gatal-gatal minta ampun. Semua justru terasa nikmat dan indah yang pasti nggak akan gw temuin di Jakarta. Yakin suatu saat Allah dan Rasulullah akan memanggil lagi untuk bisa menengok kota Suci yang diberkahi itu.

Perjalanan ke Mekkah menghabiskan waktu sekitar 5 jam. Sebelumnya kita mampir dulu ke Bir Ali, tempat kita miqot yakni menjatuhkan niat untuk umrah. Kalau sudah berniat banyak yang harus kita jaga agar tidak perlu membayar dam atau denda. Larangannya, rambut jangan sampai lepas, kuku copot,jangan berhubungan intim, jangan mencabut tanaman, jangan membunuh binatang, jangan berkata kasar, jangan bertengkar, dan bagi pria memakai baju ihram. Juga dilarang memakai wangi-wangian.

Akhirnya dari Bir Ali kita sudah melakukan perjalanan ke Mekkah dalam keadaan niat umrah. Sekitar jam 11 kita sampai di Mekkah dan langsung menaruh barang di hotel Grand Zamzam. Kita memulai umrah sekitar pukul 2.00 pagi.

Keluar dari hotel hati gue bergetar melihat Masjidil Haram dari luar. Menara, bentuk kubah yang selama ini Cuma gw lihat di gambar, dan sajadah ada di depan gw. Di manakah kau wahai Ka’bah?

Lalu kita masuk di gate 1, Kingabdul Azis tertulis di pintu 1 itu. Ketika masuk Masjidil Haram gw terbelalak, badan gw bergetar, hati gw berdetak, nun jauh di hadapan gw berdiri tegak sebuah benda hitam segi empat dengan megah dan agung. Magnetnya sangat kuat. Itukah Ka;’bah? Hah itu ka’bah? Subhanallah Ka’bah di hadapan gw?
Sumpah. Gak bisa gw jelasin perasaan gw saat itu. Ka’bah yang selama ini cuma lihat di tv, cuma ada di gambar dan sajadah. Ka’bah yang se lama ini menjadi kiblat seluruh umat Islam di seluruh dunia. Ka’bah yang menjadi satu tumpu dan kesatuan umat islam ada di hadapan gw???

Ternyata saat itu bukan gw aja yang bergetar. Semua teman gw satu kelompok merasakan hal yang sama. Ingin rasanya saat itu gw peluk Ka’bah. Ingin rasanya gw rangkul. Berulang-ulang gw bersykur bisa dipanggil Allah dan menjadi tamu Nya di kota suci Mekkah. Berulang-ulang gw berterimakasih karena Allah mengundang gw datang ke sana. Gw semakin yakin, siapapun yang datang ke Mekkah dan Madinah itu atas undangan Allah. Sebanyak apapun orang berduit, kalau hatinya belum dipanggil pasti sulit untuk bisa datang dan melihat Ka’bah secara langsung.

Pukul 2.00 pagi kita thawaf keliling Ka’bah. Kalau mau diibaratkan mungkin gw seperti ketemu idola gw. Nggak bisa mata lepas dari Ka;bah sepanjang gw thawaf memutar Ka;’bah sebanyak 7 kali sambil mengucapkan Bismillahi Allahu Akbar dan mengecup tangan kanan ketika di Multazam (antara Hajaraswad dan Pintu Ka’bah). Gw telusuri seluruh Ka’bah dengan mata gw. Kain penutupnya yang hitam dengan bergaris dari emas, gw merasa Ka’bah hidup. Ka’bah berdiri tegak memperhatikan umat Islam yang mengelilinginya. Magnetnya sangat sangat kuat dan tajam.

Gw juga memperhatikan orang-orang yang berusaha memegang Hajar Aswad. Saling berebutan memegang batu hitam dari surga itu. Juga berusaha sholat di Hijr Ismail dan di makam Nabi Ibrahim. Hajar Aswad itu dalam sebuah riwayat adalah sebuah batu hitam dari surga. Konon, batu itu juga pernah dipegang Nabi Adam ketika manusia pertama itu masih berada di surga. Batu itu terbelah menjadi 9 dan direkatkan dengan lem hingga tegak seperti bentuk sekarang.

Hijr Ismail itu adalah batu setengah lingkaran dan di dalamnya orang sholat 2 rakaat sekaligus berdoa dan diijabah oleh Allah. Di atas Hijr Ismail terdapat pancuran dari emas, riwayat dari Hijr Ismail gw kurang tahu tlg diselipin yang mengetahuinya ya. Yang pasti ketika gw melaksanakan thawaf ke 3, pas banget gerimis di Mekkah. Air yang berjatuhan di sekitar Hijr Ismail dan pancuran emas itu oleh beberapa orang diambil dan ditadahin. Ada yang dimandikan, mungkin di minum. Menurut gw ini udah sirik karena gw lihat hanya air hujan yang kotor aja. Wallahualam.

Sedangkan makam Ibrahim itu bukan kuburan. Bagi orang Arab makam itu ada 2 arti yakni tempat dan kuburan. Untuk makam Ibrahim di Ka’bah ini hanyalah batu yang di dalamnya bekas telapak kaki Nabi Ibrahim ketika sedang membangun Ka’bah. Istilahnya lift ketika Nabi Ibrahim menaruh beberapa batu di atas Ka’bah. Sedangkan Multazam itu antara HajarAswad dan pintu Ka’bah. Jika berdoa khusu di sana doa kita akan dijawab. Dan ada beberapa teman yang sudah merasakannya.

Ketika melakukan thawaf, semua manusia tumplek menjadi satu. Semua berbaur yang miskin yang kaya, yang cantik yang jelek, yang wangi dan yang bau, yang hitam yang putih. Dan mereka tak perduli satu sama lain apakah di sampingnya seorang artis atau pejabat. Semua terfokus ke Ka’bah.semua khusu’ dan khidmat menyebut asma Allah dan membacakan doa.

Usai Thawaf kita berlanjut ke Sa’I, berjalan selama 7 kali antara bukit Safa dan bukit Marwah. Bukit Safa yang masih berdiri tegak dan dipakai pagar kaca, sedangkan bukit Safa sudah mengecil dan dijadikan tenpat untuk duduk atau sholat. Agar aman, bukit itu seperti di las hingga licin dan tak bisa melukai orang yang menginjakan kakinya di sana. Selama Sa’I gw membayangkan ketika Siti Hajar berlari kecil memutar sebanyak 7 kali untuk mencari air bagi anaknya yang masih bayi yakni Nabi Ismail. Gw takjub melihat kesabaran Siti Hajar, meski Siti Hajar sudah dijamin kalau hidupnya akan dilindungi oleh Allah saat itu ketika ditinggalkan Nabi Ibrahim tapi Siti Hajar tetap berusaha berlari sebanyak 7 kali dan akhirnya ditunjukan pusat air yang sekarang dikenal sebagai Air Zamzam. Pelajaran yang gw dapat: MESKI GW YAKIN DOA GW DIKABULIN KETIKA BERDOA DI MULTAZAM, HIJR ISMAIL,MAKAM IBRAHIM DAN RAUDHAH, TP KITA HRS TTP BERUSAHA. Agree??

Selama Sa’I gw lirak lirik kea rah Ka’bah yang berada di samping kanan ketika dari Marwah ke Safa. Perasaanya gimanaaa gitu, dan Ka’bah seperti melihat gw. Usai Sa’I kita melakukan Tahallul yaitu potong ujung rambut kanan, kiri dan tengah sedikit saja. Setelah itu Alhamdulillah, Umrah pertamaku selesai.

Bersambung

CATATAN KECILKETIKANMENGINJAKAN KAKI DI BUMI PARA NABI 2

KARENA KESIBUKAN, BARU DILANJUTKAN KEMBALI TULISAN PERJALANAN UMRAHKU YANG TAK TERLUPAKAN. SEMOGA BERMANFAAT.


Sabtu, 12 Maret 2011.
Berbarengan dengan teman se kamar (ibu Dedeh, Mbak Pipin dan Mbak Piko), sekitar jam 9 pagi kita sudah ada di mesjid Nabawi dengan tujuan untuk ke Raudhah. Raudhah adalah tempat di mana kita  melakukan solat 2 rakaat dan berdoa akan dikabulkan Allah. Berdoa di sini bisa diijabah. Raudhah juga terdapat makam Nabi Muhammad dan dua sahabatnya, Abu Bakar dan Umar Bin Khatab. Untuk kaum perempuan, Raudhah memiliki jam tertentu. Yakni dari jam 9 pagi-11 siang. Sedangkan untuk pria bebas bisa kapan saja ke Raudhah (Untuk para pria yang bisa ke Nabawi, lebih baik habiskan waktu di sana. Sayang kalau Cuma di luar mesjid)

Setelah sholat dhuha, kita digiring masuk ke dalam ternyata dibagi dan bergantian agar tidak bertumpuk di Raudhah yang ruanganya kecil. Untuk Indonesia digabung dengan Malaysia dan Brunei dengan plakat “Untuk Melayu”. Untuk Arab dibedakan dan selanjutnya. Ternyata jika di negri orang, kaum Melayu termasuk penurut. Contoh< kita didahulukan untuk bisa masuk ke Raudhah, tapi ada sekelompok wanita Arab atau Turki yang memaksa masuk ke dalam. Meski sudah ditegur Askar, sudah dimarahi, mereka ngeyel tetap beringsut masuk ke dalam. Sedangkan kaum melayu hanya melongo dan menegur dengan bahasa kita tapi mereka nggak ngerti.

Ada salah satu yang bisa berbahasa Inggris ngomong begini. “Kita kan sama-sama muslim, kenapa dibedakan? Tujuan kita sama.”
Iya bener, tapi mengingat tubuh mereka lebih besar dan gemuk bisa kebayang para orang melayu ini kejepit dengan tubuhnya yang mungil2. Pokoknya orang2 Turki ini Subhanallah, mereka bergerombol, kompak jalan, nggak perduli di depan ada orang dan jalan terus tanpa tubuhnya menyamping.

Hingga pada akhirnya gue masuk ke Raudhah dan melihat makam Nabi ditutupi pagar dan sajadah hijau. Doa kita ijabah ketika di Raudhah dengan ditandai karpet berwarna hijau dan melakukan solat sunnat 2 rakaat. Di depan ada papan yang ditutup dan di sana terlihat mimbar berlapis warna emas berbentuk tangga yang katanya mimbar itu dulu tempat Rasulullah berkhotbah. Dan bentuknya masih sama seperti dulu. Subhanaallah, merinddiiingggg.

Nggak nyangka bisa sampai ke sana. Di depan gue ada makam Nabi Muhammah, Nabi dan Rasul terakhir yang dipilih Allah. Imam dari semua Nabi, kekasih Allah. Perasaan saat itu berkecamuk dan …….(u can imagine that if u’re a Moslem).
Meski ramai dan penuh, susah untuk bersujud, alhamdulillah bisa melakukan solat 2 rakaat dan berdoa tentu untuk keluarga gue, my mom, husband, and two children and of course my self. Meski masih ingin berlama-lama di Raudhah tapi didorong sama Askar dengan bahasa Arab dan Indonesia. “Ibu!ibu! keluar! Hajjah!”

Minggu, 13 Maret 2011
Hari ini ada tur mendatangi beberapa kota Madinah sekaligus menyusuri perjuangan Rasulullah dalam membela Islam. Hingga ada Islam seperti sekarang kita patut tahu apa yang sudah dilakukan Rasulullah dalam peperangan. Pertama kita mendatangi Mesjid Quba. Mesjid ini disebut juga mesjid 4 menara.
 Rasulullah pertama hijrah ke Madinah dari Mekkah mendirikan mesjid ini. Mesjid quba berada di urutan ke 4 setelah Masjidil Haram, Mesji Nabawi dan Masjidil Aqsa yang pahalanya berlipat ganda. Jika kita mendatangi mesjid quba dan melakukan sholat 2 rakaat, pahalanya seperti pahala umrah. Subhanallah, belum juga ibadah umrah sudah dapat pahalanya. ALhamdulillah.

Setelah itu kita tur mendatangi Jabal Uhud. DIbilang Jabal Uhud karena di Madinah dikelilingi oleh gunung dan berbukit yang saling bertautan. Dan Jabal Uhud ini tunggal, sendiri. Jabal Uhud saksi bisu ada perang besar pada tahun ke 3 hijriyah, melawan kafir quraisy yang saat itu dipimpin oleh Khalid Bin Walid yang saat itu belum memeluk Islam. Khalid Bin Walid terkenal sebagai panglima perang yang memiliki kemampuan dalam membaca lawan dan sering memenangi peperangan. Di sebrang Jabal Uhud terlihat bukit kecil yang dinamai Jabal Ummat nah disinilah Rasulullah menempatkan 50 pemanah untuk melawan kafir Quraisy saat itu. Ketika perang hamper usai, dan 50 pemanah ini turun dari bukit, Khalid Bin Walid melihatnya dan langsung berlari ke belakang Jabal Ummat bersama pasukannya dan mengepung pasukan yang dipimpin Rasulullah. Saat itu yang mati syahid sekitar 70 orang dan sa lah satunya paman Nabi, panglima perang Syadinina Hamzah yang bertubuh tinggi besar dan berani.
Syadina Hamzah telah membunuh ayah dari Hindun, dan HIndun membalaskan dendamnya dengan menyuruh budaknya Watsyi untuk membunuh Hamzah. Watsyi diberi imbalan 100 unta dan di memerdekakan. Hamzah pun tewas, dan saat itu juga Hindun membelah badan Hamzah dan langsung memakan jantungnya dan kepalanya dipenggal sambil dibawa keliling.

Ada juga riwayat, ketika perang ini akan berlangsung seorang sahabat Nabi (gue lupa namanya) yang baru saja menikah langsung dijemput untuk berperang Uhud. ADa riwayat mengatakan kalau sahabatnya masih sempat melakukan hubungan dengan istrinya tapi belum sempat  mandi junub ada riwayat lain yang menceritakan belum sempat melakukan hubungan. Dan dia mati syahid tapi jenazahnya dimandikan oleh malaikat.
Riwayat lain mengatakan di perang Uhud ini ada seseorang yang rela membela Nabi ketika jatuh kedalam sebuah lubang. Dari atas para kafir melemparkan anak panahnya ke Nabi, tapi dia langsung terjun dan melindungi Nabi hingga tubuhnya penuh dengan anak panah. Subhanallah…

Di depan Jabbal Umat terdapat lokasi yang dipagari dan ada 70 syuhada mati syahid ketika masa perang Uhud itu. Gue bersama seorang teman membahas dan membayangkan ketika perang itu berlangsung bagaimana keadaanya saat itu. That’s amaze me.

Setelah itu kita hanya melewati sebuah mesjid bernama Qiblatain. Mesjid ini memiliki dua qiblat. Ketika Rasulullah sholat zuhur saat itu qiblat masih kea rah..(gue lupa, kalau ada yang tahu ditulis ya). Dan langsung turun perintah dari Allah untuk mengubah qiblat kea rah Ka’bah. Sejak saat itulah qiblat sholat menghadap Ka’bah hingga sekarang.
Yang juga tak kalah menakjubkan kita mendatangi Jabal Magnet. Ini jalanan yang kanan kirinya penuh dengan bukit batu dan terdapat magnet besar. Kendaraan yang melewati jalan itu bisa jalan sendiri dengan magnet tanpa harus menginjak gas. Kita membuktikanya ketika berhenti di jalanan menurun. Tiba-tiba bis mundur sendiri. Uniknya jalanan ini buntu, ujungnya terdapat bukit batu yang sulit ditembus. Jadi ketika sudah di ujung kita harus muter balik tanpa menggunakan bensin. Semua bikin takjub atas kuasa Allah. Is it right?

Bersambung

Selasa, 22 Maret 2011

Catatan Kecil Ketika Menginjakkan Kaki di Bumi Para Nabi 1

Mekkah Dan Madinah adalah dua kota yang sangat ingin didatangi para umat Islam di seluruh dunia. Dua kota ini ada di dalam Al Quran dan menjadi saksi bisu perjalanan para Nabi dan Rasul hingga dua kota ini bisa menjadi Tanah Haram bagi umat Islam. DIbilang tanah haram karena haram didatangi bagi para non muslim, kita haram melakukan perbuatan maksiat dan melakukan hal-hal yang dilarang agama. Bagi yang percaya, Allah akan langsung membalasnya saat itu juga. Atau dosa dan perbuatan lampau juga akan kena akibatnya di dua tanah haram ini.
Madinah
Ketika kaki sudah menginjakan kaki di airport Jeddah, gue udah merasa takjub. Meski saat itu kita mendarat di aiport khusus haji (karena ada peraturan baru yakni bagi para jamaah umroh yang kuotanya lebih dari 50 persen akan diturunkan di bandara haji bukan internasional.)
Banyak umat muslim dari berbagai Negara memenuhi aiport tersebut. Dan kelompok kita dari travel Arrahman termasuk sedikit hanya 11 jamaah (sebenarnya 15, yang 4 lagi nyusul karena visanya belum keluar). Sedangkan travel lain bisa membawa 60 jamaah dan 1 ustads untuk mendamping. Kita hanya bersebelas tanpa didampingi ustads dar Jakarta, untungnya beberapa sudah berpengalaman haji dan umrah. Setelah 3 jam berada di aiport untuk bisa keluar, Alhamdulillah kita dijemput di pintu gerbang security aiport untuk dibawa ke hotel Holiday Inn Jeddah. Semalam di Jeddah dan sempat merasakan semalam di Ballad. Kamis malam dan bagi para penduduk Arab diibaratkan malam minggu jadi Ballad ramai.
Jumat 11 Maret , kita check out dari hotel dan siap-siap melakukan perjalanan ke Madinah. Dari siang sekitar jam 13.00 perjalanan Jeddah-Madinah menghabiskan waktu sekitar 4-5 jam. Selama perjalanan, kanan-kiri kita disuguhkan dengan pegunungan dan bukit berbatu. Tanah tandus, pohon mongering , pemandangan saat itu memunculkan rasa yang berbeda. Imajinasi berkelana dan membayangkan ketika masa Nabi, gunung dan bebatuan itu adalah saksi bisu.
Ketika akhirnya ustads menyebutkan kita sudah memasuki batas tanah Haram di kota Madinah. Dibandingkan dengan Mekkah, MAdinah 2x lebih subur dan kota yang diberkahi. Gedung dan perumahan dengan atap persegi panjang menyambut kita. Banyak toko dan perkantoran. Di Madinah disarankan lebih banyak menyebut salawat nabi sedangkan di Mekkah Subhanallah, Alhamdulillah, Laailaahaillah, Allahu AKbar.
Waktu sudah gelap, azan Maghrib berkumandang. Semakin deg-degan dan membuat jantung terasa copot ketika ustadz menunjuk menara Mesjid Nabawi di mana di dalamnya terdapat makam Nabi Muhammad berserta dua sahabatnya Abu Bakar ra dan Umar Bin Khatab ra.
Gue takjub, melihat kota Madinah yang dipenuhi dengan gedung tinggi menjulang. Semua terasa adem, nyaman dan bikin damai. Angin dingin berhembus menembus kulit dengan nikmatnya. Semua terasa nikmat dan khusu’. Setelah menaruh barang di hotel Al Haram, gue langsung mengambil wudhu, mengambil mukena dan berlari ke arah mesjid Nabawi untuk melakukan sholat Magrib berjamaah. Menyusuri jalan menuju Nabawi disambut dengan para pedagang yang menggelar dagangannya di pinggir jalan.
Karena Mesjid Nabawi udah penuh, gue sendiri (terpisah dari 3 orang teman sekamar) solat di luar gerbang dan Alhamdulillah masih bisa ikut berjamaah. Ternyata, di Nabawi (dan Masjidil Haram tentunya) usai solat fardhu selalu ada solat mayit. Usai  magrib, dengan membaca Bismillah gue masuk ke dalam gerbang mesjid dan semakin takjub dengan desain, interior, serta semua orang dari seluruh dunia berbagai suku, berbagai Negara, berbagai bentuk dengan bahasa yang berbeda memenuhi mesjid Nabawi. Ternyata dari gerbang untuk  masuk mesjid Nabawi jaraknya cukup jauh dan sudah berdiri para askar (penjaga mesjid) perempuan yang memakai abaya (baju panjang hitam khas Arab) dengan memakai cadar.
Di mesjid Nabawi khusus untuk perempuan terdapat tiga pintu masuk dan setiap pintu ada 2 askar yang berdiri. Mereka galak, tegas dan memeriksa semua tas kalau di dalamnya terdapat kamera dan handphone berkamera.kita disuruh pulang ke hotel dan  menyimpannya di sana. Alhamdulillah gue lolos walaupun di dalamnya ada handphone berkamera.
Masuk ke dalam mesjid Nabaw gue merinding membayangkan Rasulullah pernah mendatangi mesjid itu dan berkhutbah di hadapan umat Islam. Interiornya unik, khas Arab. Banyak tiang, di ujung tiang ukiran berlapis emas dengan tulisan arab Allah. Berlapis karpet merah, di setiap pinggir mesjid di sediakan mirip jirigen yang ternyata isinya air zam-zam. Disediakan gelas plastic, orang bebas meminum dan membawa botol untuk mengambil air zamzam yang rasanya dingin dan menyejukan.
Mesjid sudah penuh, gue semakin ke dalam berjalan dan mencari celah untuk sholat sambil menunggu Isya. Tiba-tiba ditengah kebingungan, ada se orang ibu yang memberikan tempat dan ibu itu pun pergi sambil memberikan senyum. Soul berada di mesjid Nabi Muhammad ini sangat-sangat bikin damai dan betah. Di setiap tiang disediakan al quran untuk dibaca. Semua terlihat khidmat untuk beribadah di hadapan Allah.
Bersambung

Minggu, 12 Desember 2010

Emak Pengen Ke Luar Negri 3


Minggu, 21 Novermber 2010. Hari itu hari terakhir keliling Sing dan hari itu gw gk bisa lagi meinikmati perjalanan dan kepingin langsung terbang pulang ke rumah. Minggu kita ke Sentosa Island yang kondang itu di Sing.Setelah melihat map, kita memutuskan untuk ke Vivo city dulu, ini mal sekaligus tempat kita untuk ke sentosa by train. Vivo city gk jauh beda sama mal lain, tiket by train ke sentosa murah kalau gk salah cuma 4 dolar berdua. Trainya lebih kecil dibandingkan MRT, tp asik. kita dibawa keliling sekitar sentosa mau turun di pantai siloso, images of singpore, ato universal studio. Pertama kita turun di mana ada Merlion ke 2 yang guede banget. saking gedenya gw agak parno sih foto deket-deket. Bedanya merlion ini gk pipis dari mulutnya (hihihihii).
Setelah asik foto kita jalan ke atas yang udah disediakan eskalator. (kayaknya d jakarta eskalator cuma kepake di mal ya.. Anehnya. biar semua sdh di fasilitasi dan dimudahkan, tp orang Sing kbanyakan badannya langsing. apalagi cewek2nya...)di Sentosa kita juga masuk ke dalam hutan mini, (gw lupa namanya). Tempatnya kayak di kebun binatang. Tp sumpe de, soal tempat wisata, hutan2 dan tempat seperti kebun bintang, indonesia bagus. tp sayang aja gk ke urus jd terbengkalai).
Melihat pantai Sentosa sangat jauh dengan pantai-pantai yang ada di Indonesia. Pantai, laut di Indonesia sangat lebih indah. Ombaknya, pasir, alamnya sangat bagus. Tapi sangat-sangat disayangkan nggak terurus dan terawatt dengan baik. Pantai di Sentosa biasa banget, gk ada ombak, ibarat kayak kolam. Dan kita bisa melihat kapal-kapal lewat. Tapi mereka pinter, sadar kalau pantainya jelek, dibuatlah resort, tempat wisatanya seindah mungkin dan seprivate mungkin. Nggak ada orang luar yang bisa masuk, nggak ada tukang jualan. Coba pantai kita? Di Dreamland Bali yang segitu bagusnya, banyak banget orang jualan dan memanfaatkan turis. Jangan jauh-jauh de, di Anyer aja begitu. Kotor banyak sampah, padahal pantainya bagusan Anyer lhoo..
Setelah puas keliling Sentosa kita mampir dulu ke Universal Studios. Kalau bawa anak mungkin kita akan masuk tapi karena bayarnya mahal, akhirnya kita hanya puas foto-foto ajah. Hehehehhe,buat gw nggak gitu menarik sih. Dari Sentosa kita balik lagi ke vivo city dan pergi ke Little India menggunakan MRT. Namanya juga Little India, yang pasti India semualah. Liat muka orang India yang numplek di situ gue ketawa sendiri, mengingatkan akan film-film India. Kita mencari Mustafa center yang buka 24 jam, dan katanya menjual barang super murah.
Tapi sebelum masuk, kita sholat dulu di sebuah mesjid yang ada di sebrang Mustafa. Karena selama di Sing gw mampir ke 2 mesjid di Bugis sama di sini, tentu beda banget. Mesjid ini crowded, cewek cowok campur dan nggak teratur. Gw aja masuk di pintu yang sama dengan cowok dan banyak orang-orang India yang nongkrong dan memperhatikan gw. Buat yang baru kayak gw bikin nggak nyaman. Untung ada seorang ibu yang  tau gw orang Indonesia, kasih gw ptunjuk ke jalan yang lurus. Saking kurang lurus, gw malah ambil wudhu di tempat cowok. Untung nggak ditegor..phuuiih..
Yang biking gw deg-degan selama di Little India makanannya. Benar aja semua restaurant India dan untungnya halal. Karena sudah laper, ya sudahlah. Walaupun gw aneh melihatnya. Makanan yang digoreng masa warnanya merah?? Belum sayurnya warna aneh bgitu? Dengan susah payah gw kunyah itu ikan goreng dan susah banget menelannya. (ini yang gw sebelin dari diri gw, suka traveling tp susah coba makanan asing. Udah parno duluan).
Melupakan makanan India yang aneh itu dengan riang gembira gw masuk ke sebelahnya ada sebuah toko sandal dan sepatu yang harganya murah. Apalagi sandal India yang lucu-lucu, dengan semangat 45 gw pilih sekitar 3 pasang sandal yang gw suka (ini kelemahan gw juga, gak bisa liat sandal unik). Tapi seketika gw sadar, ada ‘lirikan mesra’ dari laki gw. Ups, itu tandanya gw Cuma boleh beli satu. Soale di Bugis gw udah beli 2 sendal dan 1 sepatu (haiyaaa..kapan lagi gw ke Sing…WWOkkeehh next destinasi ke India Cuma beli sandal. Sip!!).
Mustafa Center itu kayak toko serba ada. Memang semua ada, dan harganya dibandingkan mal juga lebih murah. Sandal Crocs aja (gw gk tau ini KW-KW ato asli) kalau di rupiahin Cuma seratus ribuan. Trs beberapa merk terkenal lain juga murah kalau dibandingin beli di Jakarta. Di Mustafa inilah, gw deg-degan ketika Fesbukan sama mpok gw dan mengabarkan kalau Rafa masih anget. Akhirnya gw telpon ke rumah untuk segera dibawa ke dokter. Kepingin rasanya saat itu terbang pulang….suasana perjalanan udah nggak nyaman. Untung si bunda biking gw tenang (tengkyu ya bun, u’re the best dweh).
Pulang dari Little India kita mampir sebentar ke China Town. Ini malam terakhir di Sing dan kita mau coba semua suasana di Sing. Di china town ada sebuah jalan hanya malam hari membuka pasar makanan. Ada jajanan khas Indonesia kayak getuk, kue apem, klepon, dan djual Cuma 6 dolar isi 5.
Oia, selama di Sing, kita kan masih ada kartu MRT yang nggak tahu mau diapain. Sekitar ada 4 kartu dan digabungin sama lq gw jadi 8. Ketika kita akan beli kartu baru, untung ada seorang penjaga (sejenis satpamlah) yang membantu beberapa bule. Ketika melihat ditangan kita ada kartu dia memberikan petunjuk kartu ini bisa dimasukan lagi ke mesin dan akan keluar uang 1 dolar 1 kartu. Wuiihh…asikan, balik modal.!!
Ternyata soal kartu MRT dan kartu LRT ( ini sebutan kereta di Kualalumpur) berbeda dan bikin kita tengsin abis ketika ada di KL. Senin jam 10 pgi kita check out from hotel di Geylang. Kita naek taxi ke Queens street untuk naik bis ke Kualalumpur. Di Queens street kita beli tiket sekitar 8 dolar berdua untuk ke Johor baru dulu. Ini enaknya naik bis di Sing, nggak nunggu penuh. Kalau waktunya jalan, meski penumpang Cuma empat, langsung jalan. Sekitar 20 menitan kita nyampe di Woodland, untuk check passport imigrasi. Di sini semua barang harus kita bawa, jangan sampai ditinggal karena kemungkinan kita naik bis yang berbeda tapi jurusan yang sama.
Di Woodland, semua penumpang ngantri dengan tertib. Setelah itu kita mencari halte untuk bis yang akan kita  naiki kea rah Larkin, Johar baru. Sesampai di Johar Baru kita turun lagi untuk chek imigrasi kedua kalinya. Dan tak lama kita sampai di Larkin dan biking gw terkaget-kaget.
Ibarat orang jet lag gimana sih. Gw dr Sing yang serba bersih, sistematis, dan teratur tiba-tiba turun di terminal Larkin yang panas nggak jauh berbeda dengan terminal-terminal di Jakarta. HHHmmm… no wonder, Indonesia dan Malaysia satu rumpun. Nyaris sama banget. Gw turun dari bis disambut para calo yang setengah memaksa kita untuk naik bis ke Kualalumpur. Gw berasa kayak nonton upin dan ipin ketika para calo ini memaksa gw naek bis mereka. Gw jawab aja. Betul.betul.betul…(heheheh gak ding).
Direkomend satu orang Indonesia gw membeli tiket dari bis….(apa ya gw lupa). Satu orang harganya 31 RM, ketika gw tawar dia ngomong begini: “Ini sudah dari kerajaan..? tak bisee??” Hah kerajaan? Oo mungkin maksud dia harganya sudah dari pemerintah jd gk bisa dtawar..getoohhh..
Bisnya enak, nyaman, perjalanan dari Larkin ke Kualalumpur sektar 4 jam. Selama di bis, kita browsing internet dengan BB (nah, ini yg gw demen dr BB) mencari hotel murah. Banyak yang nyaranin di Petaling atau Pudu Raya hotel murah-murah. Akhirnya gw menemukan sebuah hotel Chinatown Inn di Petaling Street. Langsung kita pesen by online untuk booking karena tertulis sisa 2 kamar di harga yang sangat murah. Bayangin 2 malam Cuma 120 RM. 1 RM sekitar Rp 3000. Murah kan dibandingkan waktu di Sing.
Turun bis di Bukit Jalil, kita memutuskan naik bis lagi ke Petaling Street. Lumayan jauh karena melewati jalan tol dan gw melihat menara Petronas yang kkooaanndaang  ituwwhh…Masuk ke Petaling Street gw disambut sama suasana pasar malam. Wuuihhh asiknnya. Semua barang bermerk tumpah ruah, tapi yang pasti KW-KW-an bukan asli.
Ternyata hotel Chinatown inn itu di tengah-tengah pasar itu. Memang agak aneh melihat pintu masuknya yang kecil, karena disebelahnya ada toko baju. Melihat pintu masuk hotel kita udah underestimate. Belum lagi naek tangga untuk ke lobi. Tapi ketika melihat lobinya…keren. kayak living room di rumah-rumah. Naek ke atas di sebelah kana nada beberapa meja kecil untuk internetan, lalu ditengahnya ada sofa, meja dan tv LCD 29 inch yang ditempel. Di belakang sofa ada meja resepsionis.   Bikin nyaman pokoknya. Dan biasanya gw ama laki gw suka nongkrong di situ malem kalo abis pulang jalan2. Itu juga rebutan sama bule-bule
Kita dapet kamar lagi-lagi di pojok dengan harga paling murah. Oia harga ini Cuma ada di online, kalau pesen langsung di hotel harganya beda ya. CATET! Masuk kamar, ruanganya lebih besar dr hotel di Geylang. Lemari baju kecil terbuka dipojok, di atas ada tv 14 inch, di sebelahnya ada meja rias dengan kipas angin. Juga ada central AC jadi nggak masalah. Malah kipas angin ini ngebantu banget cucian baju gw cepet kering. Soale ini hotel nggak sediain laundry, tapi di setiap lantai disediakan meja setrikaan, dan tinggal pinjem aja ke resepsionis. Pokoknya asik banget dweehh… kalao traveling jangan dibikin ribet booww.. (To be Continued yeeee)

Rabu, 01 Desember 2010

EMAK PENGEN KE LUAR NEGRI 2

Singapore_Malaysia
Hari kedua di Sing. gue ama laki gw udh buka brosur, map, kira-kira akan kemanakah hari itu? Tujuan wisata untuk Sing emang banyak banget. Dan kita terus memilih naik MRT lebih cepat, lebih murah dan suasananya enaak banget. Kita selalu ke stasiun Aljunied, di kawasan Geylang 9 sedangkan hotel 81 kita di Geylang 16. Hari kedua keluar hotel sekita jam 10-an. Itu setelah sarapan sejenis pop mie (ini carinya jg serius banget, takut ada pork, n semua pake bhs cina. akhirnya ketemu label halal keluaran malaysia).
Yang pernah ke Sing pasti tau Geylang itu daerah apa. U know what?? pagi-pagi begitu disepanjang jalan depan toko-toko cewek-cewek Cina pake baju ketat dan setali udah nangkring. gue yang berjilbab si asik-asik aja selama nggak rese. N mereka juga cuek aja tuh liat gw lewat sedangkan lq gue cuma cengar-cengir.
Jalan dari hotel ke MRT sekitar lima menitanlah, kalau di Jakarta jauh, tapi karna ini di Sing, buat gw pemandangan baru, nggak adapolusi dan kalo nyebrang jalan tertib, asik-asik aja. Sangat menikmati. Sampai di Aljunied, kita beli kartu lagi yg mnggunakan mesin,. Di kantong msh ada 2 kartu sisa kemarin nikita bingung mau diapain ni kartu (hehehe). akhirnya  tujuan pertama ke Merlion turun di Marina Bay. Ternyata kita turun kejauhan hrsnya turun di Rafless yg lebih dekat. jalan, foto menikmati tempat itu yng sepi dan banyak mobil sedan yang mahal, hingga akhirnya sampailah kita di ikon Sing, Merlion.
ternyata sodara-sodara bnyak org Indonesia, org India, yg ikutan foto. weleh....setelah jepret sana jepret sini, tiba-tiba mendung dan kita berteduh dibawah jembatan deket Merlion di depan Starbuck. Banyak juga org yang berteduh di sana. lg enak-enak duduk, ada mahasiswi yg m inta ikut ikut quesioner soal pariwisata di Sing utk tugas kuliahnya. apa adanyalaahh...
Setelah hujan reda, kita berjalan kaki ke Singpre Flyer. Awalnya gue nolak, karena dr jauh mirip sama di Dufan. Tinggi, serem, takut jatuh, tp ketika melihat di brosur kalau Bianglala itu pake tabung tertutup aman, akhirnya kita kesana. Sambil berjlan-jalan, mampir ke taman Raffles yng buat gue kereeennnn. mirip kayak di PS Baru, ada kali, kanan kiri perkantoran, sebelah kiri ada taman dan museum. pohon besar, ada restauran Indochine. Seandainya PS Baru dibikin kayak gitu asik banget utk tempat mencari inspirasi menulis. aman, gk ada begger, gak ada sampah sembarangan...
setelah itu kita menyusuri taman Esplanada (bener gk spellnya).perut udah keroncongan, org jualan makanan dipinggir jalan kosong melompong (emang jakarta, dimana2 ada warteg), trs kita ketemu org jualan es krim walls pake roti tawar. secara gw suka es krim, hadduhhh jd salah satu favorit gue. cuma 1 dolar bo! and es krimnya tuebeel banget. and yg gw suka mereka melayani pembeli pake sarung tangan plastik jd sedikitpun itu makanan gk tersentuh kulit dia. Sip!! menikmati danau di taman esplanada yg dekat merlion dan rafles, kita akhirnya sampai di Sing Flyer. ternyata balapan F1 di sana dan masih ada bekas-bekasnya. karena wekend bnyk org yang ke Singflyer, dan kita di untungkan dengan brosur dan terselip diskon 15 persen. Maklum, backpaker semua pengeluaran hrs gw perhitungkan matang secara kartu kredit lupa gw aktifin..huh..
di Singflyer kita bs mlihat keindahan Sing yg bersih dr atas. Jujur buat gw biasa aja, bayarnya lumayan mahal lg. Perorang 50 dolar..ayo kali 7000 berapa?? (hehehe dasar emank2, biasa jd menteri keuangan di rumah).
setelah puas, kita ke Bugis Street naik bis. temen gw recomend bgt tempat ini sebagai tmpt belanja murah. dan ini pertama kali naek bis di Sing. Itu pun gw masih takjub (gw org kmpung bgt yak). sepi, gk rebutan dan membayar kebanyakan pakai kartu. Cuma ditempel dan sopir akan ketahuan berapa sisa pulsa dikartu itu. Pas turun pun mereka juga mengecek kartu dgn cara menempelkannya. Semuanya serba sistemats, praktis dan yg pasti nggak ada tuh penumpang yg culas yg naek bis pura-pura udh bayar pdhal nggak. 
Ketika sampai di Bugis memang rame, dan gw suka bnget tempat kayak begitu. Bukan mal dan tersebar barang m urah. Yg menarik Hampir semua toko di Sing sdh ditempel harga jd pembeli dari jauh sdh bisa melihat harganya berapa.Sebelum memutuskan belanja perut msh keroncongan kita mencari tempat makan. Gw hampir hopeless ketika melihat smua tempat isinya org cina, makanan berbahasa Cina dan gk ada satupun yg berjilbab (itu patokan gw cr tmpt makan) dan muka org asia. Ternyata di tempat paling belakang satu ruang itu khusus makanan muslim. ALhamdulillah....ketemu mereka pake bhs indonesia ajah, gk perlu repot-repot cas cis cus.
Waktu sudah masuk asar dan kita belom solat. Teman yg udah pernah ke sana recomen kita mengunjugi mesjid Sultan dekat Arab Street. kita berjalan dan bertanya lagi lokasinya. Ternyata di sana kawasan muslim. gue suka banget sama lokasinya, mesjidnya bersih, terkendali, di belakangnya banyak toko menjual barang2 muslim, jilbab, bj muslim, dll. Gue melihat bahan yg dijual gk jauh sama di ps baru, malah bagusan di tanah abang, lebih murah lagi. Setelah solat dijamak, kita  mengunjungi Bugis Juction. Ini mal tapi ramai, apalagi pas dtg malam minggu. Karena seharian jalan, kita ngejogrok di depan mal dan pinggi jalan sambil melihat peta. Hingga akhirnya kita memutuskan balik ke hotel naik bis ajah. karena utk naek MRT agak jauhan. Di tiap halte itu selalu ada petunjuk untuk lokasi dan nomor bis tempat tujuan. Untuk meyakinkan diri kita bertanya kepada sepasang muda mudi apakah benar bis no 2 jurusan geylang dari sini ato dari sebrang??keduanya kompak menjawa" from here".
Wookeh dweehhh. Bis no 2 itu tingkat, karena gue norak dari kampung jd memilih duduk di atas sambil melihat pemandangan Sing di malam hari. Penumpang saat itu cuma ada tiga pasang sama gue. Setelah lama duduk dan penumpang turun satu persatu kita ikutan turun. ternyata dibawah sudah sepi dan hanya kita berdua. Kita pun juga nggak mengenali lokasi, eh si supir pake nanya sambi nyengir. "Mau turun di mana?" (pake bhs inggris cepet khas org cina gimana Sih). KIta bilang mau turun di geylang, dia bilang kita salah rute, harusnya dari sebrang. Huh, gimana sih itu yg kasih petunjuk. Apa dia gk ngerti bhs inggris gw yg ancur yak??hehehe.
Malam itu sdh pukul 9 lebih dikit waktu Sing. Di waktu malam dan siang Sing gk jauh berbeda, sepi, aman, bersih dan gw merasa nyaman aja meski di  negri orang. Sesampai di hotel kita langsung tertidur karena leetiihh...Gubraakks....
Tobe Continued...