Kamis, 08 Juli 2010

cerpen anita dimuat

8 juli 2010, @ 18.00 kamis

dua hari lalu gw ditelpon majalah Teen kalau cerpen ANITA mau dimuat dua minggu ke depan. Alhamdulillah... akhirnya ada juga karya gw yg dibaca orang meski baru dua. setelah ini mau revisi ARTIS STRIPPING, mau dkirim lagi.
soal buku pak oso semua narsum sudah wawancara, beliau minta sebelum puasa selesai kayaknya susah. janjian sama alexander ecker, representative fashion tv, susah banget. doi ke eropa, trs skrg ke dubai. plg tanggal 12 juli, gw sms bikin janjian tgl 13 blm ada jawaban.
trs, rumah gadang pak oso juga susah. baru kmrn dpt kontak orng yg bisa gw tanyain. akhirnya peresmian rumah itu tgl 27 juli bsk, kita Insya Allah berangkat. trs sekalian wwcr pak oso, juga bakal ada gubernur SUMBAR, walikota Padang, Menteri Dalam Negri yg orang m inang. semoga berjalan lancar.
trs galeri foto punya eyi dan carla juga belum selesai molor 2 minggu dr yg dijanjiin. soo??? gk mungkin selesai 9 AGustus, smoga beliao mengerti ksulitan ini.
Dan Insya Allah, tgl 16 juli (;pas ultah Uton ke 8 thn), pak oso resmiin the sones infotaimen center di bali. mngkin batal, sampai hr ini gk ada jawaban. gk mngkin last minuet megintgat bw 18 infotaimen yg terdiri dr reporter dan infotaiman berjumlah 36 org. semoga jadilah pas 3 harui menjelang hari H.AMIINN..

Minggu, 30 Mei 2010

Kun Fayakun..

minggu, 30 mei 2010

cuma 2 hr pembantu bertahan. br hari jumatdatang, td siang minta pulang. anak 17 tahun, ppuuihh...gw bingung si bibi yg pulang pergi trnyata lagi hamil udh 7 bulan gw baru tau kmrn. pdhl gw andelin dia kalo lg gk ada pmbntu sama kalau mama gk dtg. skrg??? kun fayakun..terjadi terjadilah. semua yang terjadi pasti atas seizin Allah dan ada alasannya yang pasti itu terbaik. smoga..amin..
susah mang cr pembantu yg nginep, yg niat kerja .gak ribet gk bnyak cincong...
about book?? alhamdulillah, tinggal nunggu ttd surat kontrak ama transferan awal. 4 hr lalu udh wwcr rina gunawan, dia wedding orgazisernya. gw malah dikasih rundown wakyu nikah, kontak person yang terlibat ama foto menyusul.
smoga berjalan lancar dan dimudahkan. tapi di buke ecker gk bs ketemuan lagi. dia mau mudik ke amrik, balik lagi pertghan juni. utk skrg ini gw wwcr by email dulu. kalo kurng ketemuan bikin appontmen sama sekretarisnya.
only @ home. lg proses membuat novel horor (lg stuk), bikin cerpen ABG (br mulai kmrn) ama skenario horor ditawarin ke produser (gk pd respon) heheheheh...
saabaarr... pasti ada jalannya..aammiinnn..

regards
aalsya@yahoo.com

Minggu, 02 Mei 2010

Alhamdulillah...

2 mei 2010. sunday @ home

Insya Allah, bendera Alsya Comm, tetap berdiri dan akan berjaya. gw baru aja dpt proyek membuat buku. meski blm teken kontrak tp lewatomongan doi udah setuju. doi itu adalah seorang pengusaha, pemilik Lion Air, ketua Partai dan pejabat. petamanya gw dimintain bos gw ngumpulin infotaimen utk pernikahan anaknya yang mewah, trs gw diminta bikinin tulisan utk iklan anaknya ke 15 media besar dimana gw hrs wwcr reporter fasihon tv, si bule ecker. trnyata doi gk bs indonesia, alhasil gw keluarin kemampuan gw binggris ria... hiks
trs lg, iseng gw sms bapak ini memberikan usul dibuatkan buku utk pernikahan itu dan diangkat kebudyaan minang yang bisa menembus negara barat lewat fashin tv. doi mau, bahkan mau bikin 2 bhasa. gw bikin proposal sederhana dengan tawaran 1000 eksemplar. lo tau trnyt dia mau brp?? 50 rb eksemplar. gw ma laki gw terbemngong-bengong.
insya allah dimuluskan jalanya ya Allah...bsk ktemeu temen'e sykur utk bikin dami buku trsbut. smoga lancar..
gw mau reksur org2 yg competen dan hasilnya hrs memuaskan dan eksklusif.
gw pake bendera Alsya BOOK..cie cie keren kan..
my hubby is my partner..
fokus g lg kesana. sama sdg pendekate dengan seorang ibu, pengusaha muda, utk dijadikan humasnya dia. liat saja nantilah, kalau didasari dengan niat baik Insya Allah semuanya lancar. amiin..

by bye wish me luck/...

Kamis, 25 Februari 2010

cerpen SURAT KE TUJUH

25 Febr, 2010 Kamis

ALhamdulillah akhirnya cerpen gue, Surat Ke Tujuh akan dimuat di majalah Teen. kemungkinan minggu depan terbitannya. dibaca dan kasih comment ya...

SURAT KE TUJUH
OLEH : ALIA SYAKUR


Nuri memberikan sebuah surat bersampul pink ke Erik. Ini surat ke tujuh yang dititipkan Lita untuk diberikan ke Erik, cowok incerannya. Wajah Nuri terlihat bete. Erik menerimanya dengan wajah berseri tapi langsung menoleh begitu melihat Nuri yang cemberut.
“Tumben lo bete gitu. Biasanya paling seneng jadi pembantunya Lita.’’
Nuri mengerling sebal. “Kenapa sih elo berdua nggak pake sms atau email. Jadul amat sih surat-suratan.”
“Yee elo nggak tahu sih nikmatnya surat-suratan. Beda kalau pakai email atau sms. Tambah deg-degan, bikin gue bisa baca puluhan kali. Tulisan tangannya itu yang bikin gue merasa selalu dekat dengan dia,” Erik cengar-cengir. Tapi langsung terdiam begitu melihat Nuri yang cemberut.
Selama tujuh kali menerima surat dari Nuri, Erik merasa ada yang berbeda dari Nuri dan Erik merasa makin akrab dengan gadis kurus itu. Selama ini, Erik menganggap Nuri cewek biasa yang jauh dari popular di sekolahnya. Kurus, tidak cantik dan tidak seseksi Lita. Pandangan Erik menjadi lain selama tujuh kali bertemu terus menerus dengan Nuri.
Cewek ini beda sama Lita. Ada yang menarik yang nggak bisa gue sebutkan. Ah, gila. Kok, gue jadi mikir ngawur begini sih, Erik membatin dan tergagap begitu beradu pandang dengan Nuri.
Dada Nuri langsung berdesir begitu menoleh ke Erik yang sedang memperhatikannya. Erik dan Nuri jadi salah tingkah. Nuri langsung berdiri dan pergi tanpa sepatah katapun. Sedangkan Erik hanya memandangnya dari kejauhan.

Nuri membolak-balik tubuhnya. Malam itu mata Nuri sulit sekali terpejam. Wajah Erik dan tatapan matanya yang tak bisa di ungkapkan terus bermain di kepalanya. Erik memang tampan. Bahkan paling tampan di sekolah. Ikut basket, ikut OSIS, orang kaya dan banyak banget penggemarnya. Seandaianya… dia suka aku. Apa arti tatapannya itu?Ah, ngaco. Siapa gue? Erik tahu gue cuma orang suruhannya Lita. Gue Cuma dijadiin bulan-bulanan Lita supaya bisa ikut genknya dia yang popular. Gue nggak kaya, gue nggak cantik, apa kelebihan gue?
Nuri menarik nafas. Seandainya gue sejajar sama Lita dan cewek popular lain di sekolah, gue pasti berani bersaing untuk mendapatkan Erik. Ah, ngaco lagi. Nuri tak bisa menahan kalimat saling sahut menyahut di kepalanya. Akhirnya Nuri tertidur.

Di sebuah rumah mewah, seorang cowok tampan sedang menatap langit kamarnya. Erik bingung, sejak bertemu dengan Nuri tadi siang pikirannya tak bisa lepas dari gadis sederhana itu. Erik merasa menemukan kenyamanan jika berada dekat dengan Nuri. Tujuh kali bertemu karena surat dari Lita, semakin mengenalkan sosok Nuri di mata Erik.
Nuri sangat berbeda dengan Lita. Nuri sederhana, Nuri pintar dan Nuri seakan memberikan magnet bagi Erik untuk terus dekat. Nuri membuat aku nyaman dan damai, bisik hati Erik. Erik tertidur dengan senyum di bibirnya.

Lita menutup pintu mobil Honda Jazz nya dengan ceria. Begitu melihat sosok Nuri, Lita langsung berlari kecil. “Hai Nur.”
Nuri menoleh kaget. Wajahnya tersenyum di paksakan. “Gimana Nur, surat gue udah dikasih ke Erik kan..”
“Udahlah, katanya makasih.”
“Kok, makasih doang sih…” Lita bersungut manja. Nuri menoleh melihat wajah Lita yang cantik dan menggemaskan. Mana ada pria yang menolak dia untuk dijadikan pacar. Pria bodoh yang menolak Lita. Nuri jadi mendadak minder membandingkan dirinya dengan Lita untuk memperebutkan Erik. Nuri merasa jadi sangat malu.
“Gue nggak tahu. Lo sms aja dia. Dia nggak ngomong banyak sih.”
“Gue kan udah kasih elo tugas penting ini Nur. Elo harus terima kasih sama gue dikasih kesempatan untuk dekat-dekat Erik. Jarang ada cewek dekat dengan Erik yang cakep itu. Apalagi cewek kayak elo begini…”
Dada Nuri terasa sakit. Tapi dia sudah terbiasa mendengar kalimat menyakitkan dari Lita. “Maaf Lit, ntar kalau ketemu Erik gue tanyain deh apa tanggapannya.”
“Nggak usah. Biar gue aja nanti yang langsung ngomong ke dia. Ada yang penting mau gue omongin tanpa elo tahu.” Lita meninggalkan Nuri dan menghampiri Beka dan Jesi, satu genknya yang cantik dan tajir.Nuri hanya menunduk. Tanpa Nuri tahu, ada sepasang mata memperhatikannya dari kejauhan.

Nuri sedang siap-siap membereskan tasnya. Lima menit yang lalu bel sekolahnya berdering. Beberapa temannya sudah angkat kaki dari kelas. Tiba-tiba Nuri dikagetkan dengan kedatangan Lita sambil menangis sesungukkan.
“Nuri…..kenapa jadi begini…” Lita mengusap air matanya dengan tisu. Sudah ada beberapa tisu basah di tangan satunya lagi.
“Kenapa Lit…”
“Ini pasti gara-gara elo yang salah ngomong. Lo ngomong apa aja ke Erik. Elo pasti kasih tahu Erik kalau gue pacaran sama Tio. Ayo, ngaku.. padahal gue pacaran sama Tio cuma main-main. Gue mau serius sama Erik, tapi dia….” tangis Lita pecah seketika. Nuri bingung.
“Gue nggak ngerti maksud lo apa Lit. Nggak mungkin gue ngomong ke Erik kalau elo jadian sama Tio. Elo tau gue kan, nggak mungkin gue kayak begitu,” wajah Nuri panik.
“Iya tapi kenapa Erik bilang nggak mau lagi ketemu gue. Nggak mau lagi surat-suratan sama gue. Katanya dia sudah menemukan cewek yang lain. Elo harus jujur sama gue Nur, siapa cewek itu. Erik ngomong apa aja kemarin, ngomong….” Lita menarik tangan Nuri dengan kasar. Nuri hanya terdiam.
“Gue nggak mau lagi temenan sama elo. Elo bikin sial! Habis ini elo jangan ikutin gue lagi. Awas!” Lita berjalan ke luar kelas sambil menghapus air matanya.
Nuri termangu. Nuri berjalan ke luar kelas sendiri. Di halaman parkir, Nuri melihat Erik yang tersenyum kepadanya. Erik menghampirinya. “Gue anter Nur.”
Nuri terbelalak. “Lo apain Lita sampai nangis begitu..”
“Ah, biasa dia emang begitu. Semenit lagi juga ketawa-ketawa lagi. Gue tahu dia udah pacaran sama Tio. Kayaknya dia cuma mau mainin gue doang. Mending gue cari yang masih jomblo. Gue anter yuk.” Erik menarik tangan Nuri dengan lembut. Nuri hanya terpana tanpa bisa berkata apa-apa. Diikuti saja langkah Erik ke arah mobilnya. ****

SELESAI

Rabu, 10 Februari 2010

Diva Eye Change become ALSYA COMMUNICATIONS

Febr 10, 2010. Wed

Semua niat baik ternyata tidak dimuluskan oleh ALLAH. Diva EYe Comm akhirnya harus ambruk dan hilang serta cuma jadi kenangan. setelah menangani satu proyek, we're DONE!!
ini semua karena kita berdua sama-sama egois, emosia, nggak mau kalah, nyolot, sok pinter dan yang pasti gk bs komunikasi..
ya sudah. biasanya juga handle sendiri,akhirnya gw keep jalan dengan bendera ALSYA COMMUNICATIONS...tetep profesional, tetep menakjubkan karena kepalanya msh di otak gue, dan my 'hubby' husband always support me. I acoount Him..
we wish.. ALsya Comm, bisa bertahan lama, rejeki banyak and gw bisa merasaan jadi bos untuk diri sendiri..

Bismillah..semua dimulai dengan ikhlas, semoga rejekinya lancar... aminn..

Jumat, 08 Januari 2010

Diva Eye Communications


8 januari 2010 @ friday..

i think already a mounth me and melda built our little companty, DIVA EYE COMMUNICATIOBNS.
kita bikin ini atas dasar sama-sama susah mencari pengasuh untuk anak. bikin Diveycomm (we call it), spy bisa kerja d rmh anda resign from journalism. but kita harus setled dulu Diveycomm ini evet kemarin sempet dpt klien peluncuran film tapi nggak jadi. ada masalah sedikit.
n now..kita udah mengajukan utk launch something...kita tinggal menunggu apakah mereka bersedia 'memakai' divey comm. kalau rejeki toh gak kemana???
gw berharap divey comm bisa trs eksis di antara perush PR lain yang besar. gw yakin, atas dasar niat yang baik (utk keluarga pastinya), Allah akan memudahkan kita dan dibukakan pintu rejekinya. amiieennn....
so, kalo butuh promosi anda anythink, u can call us. n we be there!!!

Jumat, 23 Oktober 2009

cerpen ANita

Sinopsis Cerpen ANITA

Anita adalah seorang gadis berusia 15 tahun dan masih kelas 3 SMP. Anita anak yang pendiam, pemalu dan minder karena lahir dari keluarga yang miskin. Ayahnya pergi meninggalkannya sejak dirinya masih berusia 10 tahun. Sejak saat itu, Anita tinggal bersama ibunya yang pemarah dan bekerja menjadi buruh cuci.

Seperti remaja pada umumnya, Anita ingin diterima dipergaulan di sekolah. Anita yang merasa tidak cantik iri melihat teman-temannya yang bahagia, kaya dan cantik. Teman-teman di sekolahnya sudah mempunya gank masing-masing, kecuali Anita yang minder dan tidak popular di sekolah.

Keinginannya untuk menjadi kaya dan diterima dipergaulan akhirnya membuatnya mengambil jalan pintas. Anita mendapatkan ide ketika secara tidak sengaja membaca sebuah headline koran metropolitan perihal anak remaja yang menjajakan diri di mal.

Dengan yakin, Anita mulai datang ke mal sesuai dengan petunjuk yang ada di koran. Tapi dia ditemukan oleh seorang mucikari yang biasa dipanggil mami. Lewat mami, Anita mendapatkan pelanggan pertama yang akan membayarnya Rp 5 juta. Apakah Anita nekat melepas keperawanannya demi uang Rp 5 juta?


Cerpen


ANITA

OLEH : ALIA SYAKUR

Anita termangu membaca headline sebuah koran metropolitan yang bertajuk Para Siswi SMP Jakarta Tertangkap Menjajakan Diri di Mal. . Cara ABG Menjajakan Diri: Nongkrong di mal-mal, lewat mucikari dan lewat situs internet. Modus di Mal: Nongkrong di kafe, Pura-pura belanja, Nongkrong dekat eskalator dan nongkrong di dekat deretan ATM.
Wajah Anita serius membaca satu persatu berita yang ada di koran itu. Lalu dihembuskan nafas panjang seakan ingin mengeluarkan beban yang memberatinya. Anita berjalan ke arah lemari di mana ada cermin di sana. Dicermati postur tubuhnya yang mungil, kulitnya yang coklat dan wajahnya yang biasa saja. Bertengger kaca mata minus dan rambut panjang sebahu yang lurus. Tubuhnya bisa dibilang kerempeng.
Apa ada yang mau melihat aku jelek seperti ini? Apakah mereka tertarik melihat aku? Anita membatin.
Lalu kembali diambilnya koran tersebut dan kembali dilihatnya. Anita terihat ragu. Sudah sebulan bulan belakangan Anita resah melihat kehidupan keluarganya selalu dikelilingi kemiskinan. Ibunya selalu marah-marah karena letih menjadi tukang cuci. Jika di rumah, Anita selalu menjadi tumpahan kemarahan ibunya yang juga stres karena ditinggal ayah Anita tanpa uang sedikitpun.
Anita juga muak dengan lingkungan sekolahnya yang selalu nge-gank. Kumpulan anak orang kaya, kumpulan anak pintar dan kumpulan anak gaul. Sedangkan dia? Menjadi kelompok marginal yang tak pernah dianggap.
Dua minggu lalu Anita pernah mendengar pembicaraan temannya yang masuk genk anak gaul. Ria, Dora, Sita dan Baby. Di belakang sekolah mereka cekikikan sambil bercerita yang menegakan bulu kuduk Anita.
“Gila lo, pasti nggak bakal nyangka. Kemarin si mami kasih gue om yang royal banget. Ini ke dua kali gue dipake dia. Dan elo liat sekarang, gue di beliin hanpdhone terbaru. 4 juta ni bo,” Ria memamerkan handphonenya yang berwarna pink. Teman-temannya terbelalak.
“Hebat lo Ri. Beruntung lo! Gue cuma dapat 300 ribu doang. Standarlah. Ntar gue minta mami kasih om tajir kayak elo begitu,” suara Sita terdengar iri.
“Sabar Sit. Lo kan masih baru, jadi uang lo belum cukup beli hp begini. Santai aja,” Dora tertawa sambil mengedipkan mata kea rah Ria yang dibalas dengan cengiran.
“Iyaa.. yang senior….udah tajir.. Nyokap bokap elo udah curiga belum,” suara Baby terdengar.
“Nggaklah. Gue kan jago bersandiwara. Artis gitu loch..” Dora tertawa bangga.
Anita yang menguping terbelalak kaget dan langsung ngacir.
BUK! Buk! “Anitaaa…..jangan tidur aja kamu…bangunnn.. Bantu ibu…”
Anita tersentak. Ibunya menggedor pintu kamar dengan sekuat tenaga. Langsung dilipatnya koran dan membuka pintu kamar. Wajah ibunya terlihat letih. Meski usianya masih 40 tahun, guratan keletihan sangat terlihat jelas. Anita mengeluh di dalam hati.
“Kamu tidur terus. Pemalas! Bantu ibu nyetrika!!” Ibu berteriak sambil menunjuk ketumpukan baju di pojokan ruangan.
“Ibu jangan marah-marah terus kek. Aku akan bantu..” Anita menggerutu melihat ibunya matanya melotot.
“Kamu nggak ngerti! Ibu ini capek dari pagi nyuci. Cari uang untuk bayar sekolah kamu! Kamu ngapain? Cuma sekolah, makan, tidur..” Ibu Anita langsung mengambil setumpuk cucian dan menaruhnya di depan Anita.
“Nih, kamu setrika. Ibu mau ke rumah Ibu RT.”
Anita bergumam kesal. “Nanti aku akan kerja bantu ibu..”
Ibu Anita yang sudah berjalan langsung berhenti dan menoleh. “Kerja apa kamu? Anak ingusan mau cari kerja! Sarjana pada nganggur. Kamu lagi masih SMP mau kerja.” Ibu Anita menggerutu dan ke luar rumah.

Anita berjalan perlahan sambil menunduk. Bel pulang sekolah sudah berbunyi 10 menit yang lalu. Kepalanya mendongak ketika mendengar beberapa temannya sedang tertawa gembira. Di depannya dilihat Dora, Sita, Baby dan Ria sedang menunggu bajaj. Anita langsung berhenti. Sebuah rencana langsung menggelayuti kepalanya.
Setelah ke empat temannya itu naik bajaj, Anita langsung menyetop angkot yang lewat di depannya. Dia berhenti di sebuah mal yang lumayan jauh dari sekolah. Mata Anita langsung mencari empat sosok temannya. Jantungnya berdegup ketika melihat mereka sedang berbicara dengan seorang pria muda yang terlihat kebanci-bancian. Ke empat temannya sudah berganti baju. Mereka terlihat seksi dan berani. Mengenakan rok pendek dan celana pendek. Wajah mereka juga di make up. Tak terlihat sekali kalau mereka anak SMP.
Anita melihat Dora melambai ke seseorang. Dora menjauh dan mendekati seorang pria yang tak jauh dari eskalator. Anita memperhatikan satu persatu temannya yang berpisah. Mata Anita juga jelatan memperhatikan eskalator, dan tempat ATM. Benar apa yang aku baca di koran. Banyak anak perempuan yang mangkal, Anita berkata dalam hati.
Rata-rata anak gadis itu mengenakan baju kasual. Tak seperti perempuan nakal, tapi gesture mereka seakan mengundang pria yang melirik. Selama dua jam, Anita memperhatikan gerak-gerik ABG yang mangkal di mal. Rencana baru kembali bergelayut di kepalanya. Anita pulang ke rumah dengan kepala yang penuh akan rencana baru.

Sudah lewat tengah malam. Tapi mata Anita sulit terpejam. Badannya dibolak balik dengan resah. Diliriknya baju yang digantungnya di lemari. Sesorean tadi, Anita sibuk memilah baju yang akan dikenakannya untuk besok. Tak ada satupun baju yang layak dipakai ke mal. Celana jeans yang dimilikinya sudah belel dan ketinggalan tren. Kaosnya juga sudah agak lusuh.
Ada satu baju bekas lebaran kemarin. Meski modelnya juga tidak trend dengan warna ungu, tapi Anita sudah mencobanya dan lumayanlah dari pada tidak. Anita juga mencoba memakai lipstik ibunya yang sudah mau habis. Warnanya sangat merah. Wajahnya jadi terlihat tua dari usia yang sebenarnya.
Dada Anita bergemuruh jika mengingat kenekatannya untuk datang ke mal dan bergabung dengan ABG lain. Apakah ini jalan pilihanku? Apakah ini jalan yang benar? Tapi inikan dosa…Batinnya terus berkecamuk sehingga Anita letih dan matanya terpejam.

Anita melangkah ragu keluar dari toilet mal. Seragam sekolahnya sudah dilepas dan diganti dengan jeans serta kaos berwarna ungu yang dipilihnya. Rambutnya yang lurus dibiarkan tergerai. Anita memoleskan tipis lipstik milik ibunya. Sejak semalam Anita sudah berlatih bagaimana mengatur mimik wajahnya sehingga terlhat pede dan cantik.
Anita pura-pura masuk ke sebuah toko baju. Dia sok sibuk mencari-cari kaos. Hatinya berdesir begitu melihat harga baju yang menurutnya mahal. Cuma kaos saja lima puluh ribu?
“Ih, murah banget. Cuma lima puluh ribu. Kemarin gue lihat kayak gini persis tujuh puluh lima ribu di mal sebelah. Di sini murah banget ya,”Anita menoleh. Dia melihat dua gadis seumurannya sedang sibuk mencari-cari baju.
“Kan gue bilang dari tadi. Lo belanja di sini aja. Lebih murah,” kata temannya yang satu.
Anita memperhatikan keduanya dari ujung kaki hingga rambut. Semua yang dikenakan gadis itu terlihat mahal dan baru. Belum lagi ponsel mahal yang mereka genggam dengan gaya. Anita mendadak minder.
Kedua gadis itu menoleh melihat Anita dan mereka berbisik sambil tersenyum sinis. Tatapan mata mereka meremehkan penampilan Anita. Anita langsung keluar toko itu. Wajahnya terasa panas.
Dihampirinya deretan mesin ATM. Dia melihat ada dua gadis berdiri di sana. Seperti pura-pura ingin mengambil duit di ATM. Apakah mereka sedang mencari mangsa? Anita melirik kedua gadis itu. Yang satu mengenakan rok pendek, malah sangat pendek. Dengan baju seksi yang memperlihatkan punggungnya. Sedangkan yang satu lagi masih lebih sopan. Celana pendek yang dipadukan dengan kaus berleher Sabrina.
Anita pura-pura sibuk mencari dompetnya. Wajahnya dipasang sedemikian pede. Sudah lima menit berdiri di situ, Anisa merasa ada dua pria setengah baya meliriknya sambil senyum. Anita mencoba membalas senyum mereka.
Kalau mereka menghampiriku, apa yang harus aku lakukan? Belum selesai berfikir Anita sudah dikejutkan dengan sapaan seorang wanita di sampingnya.
“Halo sayang…” Anita menoleh. Wanita setengah baya dengan dandan menor memberikannya senyum. Anita membalasnya dengan ragu.
“Ikut mami yuk..”wanita itu memegang tangan Anita dengan lembut dan menariknya.
“Hhh.. kemana..” Anita mengikuti saja tanpa daya. Wajahnya kebingungan.
Mereka masuk ke sebuah kafe. Anita ikut saja dan duduk di sebelah wanita itu. Wanita itu langsung memesan minum untuk Anita. Setelah itu, si wanita memandang Anita dengan lembut sambil tersenyum.
“Kamu yakin mau seperti ini?”
Anita gelagapan…”Maksud tante…”
“Panggil saya mami. Jujur saja sayang. Mami tahu kamu sedang apa di sana…” si mami memegang wajah Anita dengan lembut.
Anita menunduk. Jantungnya berdebar kencang. “Umur kamu berapa?”
“14 tahun..”
“Kamu tahu akibatnya kalau kamu berhubungan intim di bawah umur? Kamu bisa terkena kanker rahim sayang. Bagaimana kalau hamil? Kamu bisa keguguran karena rahim kamu belum kuat, Dan efeknya justru semakin parah. Kamu bisa mandul. Lalu kalau kamu hamil,Bagaimana? Aborsi? Itu namanya pembunuhan, ”wajah mami serius.
Anita menunduk semakin dalam. Raut wajahnya terlihat semakin ragu.
“Kalau kamu yakin, mami punya kenalan yang bersedia bayar 5 juta. Kamu belum pernah kan sebelumnya?”
Anita mendongak. Senyum kecil mampir di wajahnya. Pikirannya sudah tertuju uang 5 juta.
Mami melihat senyum itu semakin semangat menawari Anita. “Nama kamu siapa?”
“Anita..”
“Oke Anita. Kalau kamu mau, mami telpon teman mami itu. Setelah itu kamu bisa bawa pulang 5 juta. Tapi sebelumnya kamu harus ganti baju dulu. Baju kamu sudah kuno.”
Mami membuka tasnya. Di dalam tas itu, Anita melihat beberapa baju warna-warni dan rok serta celana pendek. Mami mengambil satu baju berwarna biru. Potongannya terlihat seksi, di bagian dada agak rendah.
“Toilet di belakang. Kamu ganti di sana ya..”
Anita mengangguk nurut dan berjalan ke belakang. Begitu Anita pergi, mami langsung mengambil ponselnya dan mulai menelpon dengan wajah serius.
Tangan Anita sibuk menarik bajunya agar menutup dadanya. Baju itu begitu seksi dan Anita sedikit pangling dengan penampilannya. Mami tersenyum melihat Anita datang.
“Kamu seksi kan. Harusnya kamu nggak usah pakai kaca mata. Tapi nggak apa-apa. Besok kalau sudah ada uang kamu bisa pakai soft lens,” mami tersenyum lagi.
Anita tersenyum senang. Sudah sejak lama dia menginginkan soft lens. “Mata kamu bagus, alis kamu juga. Kalau pakai soft lens kecantikan kamu jadi keluar.” Mami terus memuji meski di kepalanya tersimpan rencana.
Anita semakin senang. Baru sekali ini ada yang memujinya. “Yuk..” mami menarik tangan Anita.
“Kemana mam..”
“Orangnya nggak mau ketemu di sini. Katanya ramai, jadi kita samperin aja ke apartemennya.”
Anita mengikuti tanpa banyak bicara. “Orangnya royal Nit. Kalau kamu bikin dia seneng, kamu pasti akan dikasih lebih. Dia langganan VIP mami,” mami bercerita. “Nanti kamu, mami anter ke sana. Mami akan tunggu di lobi, kamu naik sendiri ke kamarnya.”
Anita menoleh spontan. Wajahnya ragu. “Aku sendiri ke atas? Kenapa nggak mami anter aku sampai ke kamarnya..”
Mami menatap wajah Anita lalu mengangguk. “Oke, setelah itu mami akan tunggu di lobi bawah. Kamu ikuti apa kata dia.”
Di sebuah apartemen lantai 20, mami mengetuk sebuah kamar. Pintu kamar dibuka dan seorang pria setengah baya sudah di depan kamar sambil tersenyum. Dia mempersilahkan Anita dan mami masuk.
“Ini Anita? Kamu cantik….” pria itu memuji Anita sambil tersenyum ramah. Anita hanya diam. Lalu mami dan om itu pergi ke ruangan lain. “Dapat anak baru dari mana lagi mam..” Si Om tersenyum sambil menyerahkan amplop yang berisi uang.
“Pokoknya om tenang saja. Pelayanan dari mami selalu memuaskan. Ini sudah 20 juta?” Mami membuka amplopnya.
Si Om mengangguk. “Oke, mami percaya om. Mami tunggu di lobi bawah. Dia masih baru, jadi pelan-pelan lah…” Mami tertawa senang.
“Tenang saja mam, ini bukan pertama kali kan…”
Mami keluar kamar. Sedangkan Si Om menghampiri Anita sambil tersenyum. “Mau minum apa Anita. Juice ya…” Si Om menghampiri kulkas. Anita hanya mengangguk. Dia merasa asing di tempat itu.
“Anita.. kita minum di kamar yuk…”
Anita mengikuti saja. Anita duduk di pinggir tempat tidur. Kamar itu terlihat mewah dan sejuk. Si Om menghampiri Anita dan duduk disampingnya. Anita hanya diam. Lalu Si Om mulai memegang tangan Anita dengan lembut, kaca mata Anita dibukanya. Anita hanya terdiam dan pasrah….

Sepuluh menit kemudian, mami dikagetkan dengan sosok Anita yang keluar melewati lobi sambil berlari kencang. Bersamaan dengan itu, handphone mami berbunyi. “Ada apa om..”
“Anak kurang ajar! Baik om, saya akan ke atas.” Mami mematikan ponselnya sambil menuju lift dengan wajah geram.

SELESAI